August 4, 2021

Talkshow: Pentingnya Krisis Iklim



Kemarin, 3 Agustus 2021 ICCTF menjadi narasumber Talkshow Pentingnya Krisis Iklim yang merupakan rangkaian dari Kegiatan Mahasiswa Baru Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.



Sudaryanto selaku Program Manager ICCTF menjelaskan bahwa proses berubahnya iklim berdampak pada musnahnya makhluk hidup dan rusaknya bumi, penyebab krisis iklim di Indonesia 34,9% berasal dari sektor energi tak misalnya batubara dan 47,8% berasal dari perubahan tata guna lahan dan kehutanan (sumber: NDC Indonesia). Dijelaskan pula mengenai pembelajaran di tingkat tapak dari proyek pendanaan aksi iklim yang dikelolah oleh ICCTF-Bappenas, 114 kabupaten di Indonesia telah diintervensi dengan proyek pembangunan rendah karbon dan secara perhitungan ICCTF berkontribusi melakukan penyerapan karbon sebanyak 9,4 juta karbon dari menanam pohon dan merehabilitasi lahan.

Terjadinya krisis iklim disebabkan oleh gas rumah kaca yang terus diproduksi terperangkap di lapisan atmosfer bumi, menahan pantulan cahaya yang mengenai bumi menuju luar atmosfer, sehingga suhu bumi meningkat. 

Dampak dari krisis iklim ini telah kita rasakan contohnya perubahan temperatur, pola musim yang tidak dapat ditebak, terjadinya banjir, kekeringam, longsor, hingga badai seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada bulan April lalu. Semua ini merusak ekosistem dan memperngaruhi manusia. Krisis iklim ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi masyarakat secara luas termasuk perguruan/lembaga penelitian, lembaga masyarakat, dan pengusaha/swasta.

Sudah ada kesepakatan bersama di dunia terkait perubahan iklim, dalam UNFCCC COP 21 di Paris tahun 2015 telah disepakati untuk menahan laju pemanasan global di bawah 2 derat dibandingkan sebelum revolusi industri yang ditandatangani juga oleh Indonesia. Indonesia memiliki rencana aksi iklim 5 tahunan yang dikenal dengan Nationally Determined Contribution sejak 2020. Sudaryanto menegaskan bahwa krisis iklim adalah tanggung jawab manusia, selebihnya dia menjelaskan bahwa jika dalam ajaran agama Islam, bumi diciptakan sempurna, manusia adalah khalifah dimuka bumi. Maka manusia berkontribusi pula pada kehidupan yang seimbang di muka bumi, atau dipercaya sebagai karbon netral (zero emision).

Pemerintah Indonesia telah merancang sedemikian rupa agar pembangunan sejalan dengan pelestarian lingkungan, hal ini tercantum dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) bersifat wajib (PP No 46 Tahun 2016) mengenai pembangunan berkelanjutan yang mempertimbangkan carrying capacity sumber daya alam.

Kemudian, Sudaryanto juga memaparkan mengenai pembiayaan aksi perubahan iklim (climate finance) yang merupakan sistem dimana negara maju (kelebihan emisi gas rumah kaca) yang ingin tetap berproduksi, akan membantu negara berkembang agar terus bertumbuh secara ekonomi. Pembiayaan aksi perubahan iklim ini sudah dirancang anggarannya oleh pemerintah dan juga mendapatkan bantuan pembiayaan internasional, termasuk bantuan teknis untuk pembangunan rendah emisi dan berketahanan iklim.

Indonesia Climare Change Trust Fund (ICCTF) dibentuk sebagai instrumen pendanaan untuk mendukung pengurangan emisi secara nasional 29%, hingga 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Saat ini ICCTF memfokuskan kegiatan pada window marine dengan mengimplementasikan program pelestarian ekosistem laut dan pesisir.

Sudaryanto menjelaskan pembelajaran dari proyek-proyek pembangunan rendah karbon yang dilakukan ICCTF di 114 kabupaten, secara perhitungan ICCTF telah melakukan penyerapan karbon sebanyak 9,4 juta karbon dari menanam pohon dan merehabilitasi lahan, tak hanya itu kontribusi dalam aksi iklim tersebut juga memberi manfaat positif secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat di tingkat tapak.

Di Gunung Kidul misalnya ICCTF dan mitra pelaksana membangun solar panel di Banyumeneng II yan turut membantu distribusi dan ketersediaan air bagi masyarakat sekitar, tak hanya itu pada proyek Belitung Mangrove Park lahan bekas tambang yang merusak lingkungan direhabilitasi dan dikembangkan menjadi tempat wisata yang melibatkan warga sekitar dan tentunya membantu meningkatkan perekonomian mereka.



Talkshow kemudian dilanjutkan oleh paparan dari Dhita Mutiara Nabella selaku Project Coordinator Research Center for Climate Change UI, dia mengajak para peserta talkshow untuk terus bercerita mengenai krisis iklim dan beraksi dengan menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan seperti memanfaatkan teknologi yang lebih efisien dan mengajak mahasiswa untuk berperan dan berinovasi sesuai dengan bidang mereka jalankan.

Dengan berbagi ilmu dengan kaum muda diharapkan isu iklim makin marak dibahas dan tentunya akan semakin banyak orang yang terlibat dalam aksi iklim ini. Jadi apa yang sudah kamu lakukan hari ini untuk mengurangi krisis iklim? Mari beraksi dan berinovasi untuk keberlanjutan bumi kita!