February 26, 2018

Inovasi Budidaya Udang Tingkatkan Ekonomi Petani di Kabupaten Pangkep

Pemberdayaan masyarakat petani kecil sebagai kelompok rentan dampak perubahan iklim merupakan salah satu inisiatif adaptasi perubahan iklim yang perlu dikembangkan secara luas dan dijaga keberlanjutannya. Melalui kerangka program ‘’Membangun Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kelompok Rentan melalui Pertanian Berkelanjutan di Wilayah Rawan Kekeringan di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan’’ yang didukung pendanaannya oleh ICCTF-USAID, Yayasan FIELD menginisiasi program yang adaptif terhadap perubahan iklim di wilayah Pangkep, Sulawesi Selatan.

Program adaptasi ini berfokus pada pengembangan sektor pertanian, perikanan (termasuk perikanan tangkap yang inovatif dan implementatif) yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong peningkatan ekonomi kelompok rentan melalui penggunaan teknologi tepat guna. Salah satu pendekatannya dengan menyelenggarakan Sekolah Lapangan Adaptasi Perubahan Iklim (SL API).

Peserta Sekolah Lapangan sedang memanen Udang di Tambak

Penerapan metode analisis agroekosistem dalam Sekolah Lapangan lebih mudah dipahami karena masyarakat diajak untuk belajar melalui pengalaman secara langsung sehingga menguasai segala sesuatu hal yang terjadi terhadap lahan, tanaman dan ternak mereka. Dengan demikian para petani tersebut mampu menentukan sendiri solusi yang dibutuhkan dalam rangka memperkuat ketangguhan terhadap perubahan iklim.

Sekolah Lapangan yang berada di Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep menciptakan inovasi sistem budidaya udang tambak yang lebih baik dari praktek sebelumnya.

Jika dahulu masyarakat tidak melakukan pengolahan dasar tambak, masih menggunakan pupuk kimia dan pestisida, tidak melakukan proses aklimatisasi dan tidak membuat sendiri pakan udang, sekarang masyarakat sudah dapat melakukan proses pengolahan lahan dasar tambak, menggunakan materi organik seperti MOL dan kompos yang lebih ramah lingkungan, mulai melakukan proses aklimatisasi bibit sebelum ditabur, melakukan uji salinitas dan pengukuran suhu, serta berlatih membuat pakan udang sendiri dari bahan lokal.

Untuk memperkaya teori dan pemahaman masyarakat, ICCTF bersama Yayasan FIELD rutin mengadakan pertemuan di Sekolah Lapangan. Kegiatan yang dilakukan meliputi proses pengamatan rutin agroekosistem tambak, analisa agroekosistem tambak, presentasi, diskusi pleno untuk pengambilan keputusan, dan pembahasan topik khusus sesuai kondisi dan masalah yang dihadapi oleh masing-masing petani.

Topik-topik khusus yang dibahas diantaranya tentang pembukaan wawasan siklus air dan ekosistem tambak, pengolahan dasar tambak, ploting dan kebutuhan tambak, penyesuaian (aklimatisasi) benur dan nener, uji salinitas dan pengukuran suhu air, pembuatan MOL dan kompos, pengelolaan kualitas air dan pertumbuhan udang, kualitas air dan budidaya udang dan ikan, pembuatan benih dan pakan sehat untuk udang, panen dan analisa usaha tani tambak. Saat ini jumlah peserta Sekolah Lapangan API Tambak sebanyak 32 orang yang terdiri atas 22 orang laki-laki dan 10 perempuan.

Pada pertemuan ke sepuluh, para anggota melakukan sampling pengamatan dan pengukuran berat rata-rata udang yang dibudidayakan mencapai 250 ekor/kg. Dalam pertemuan tersebut para anggota menyepakati untuk melakukan panen parsial/selektif untuk mengantisipasi banjir yang diprediksikan akan terjadi pada akhir bulan Desember hingga awal Januari 2018.

Pada Desember 2017 sebanyak 37,1 kg dengan berat rata-rata 200 ekor/kg. Sehingga total udang yang dipanen sebanyak 37,1 kg x 200 ekor sama dengan 7.420 ekor dengan total penjualan senilai Rp 1.110.600,00. Melihat potensi ekonomi tersebut, saat ini Kepala Desa menganggarkan di Dana Desa pembelian 3 hingga 5 buah Traktor untuk pengolahan lahan dasar tambak masyarakat.