July 26, 2021

Hari Mangrove Sedunia 2021: Cuplikan Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Gili Balu

Hari ini, 26 Juli dirayakan sebagai Hari Mangrove Sedunia, Indonesia dengan panjang garis pantai mencapai 108.000 km memiliki luas hutan mangrove terbesar di dunia atau mencapai 25 persen dari total luas mangrove di dunia. Luasan mangrove tersebut dapat kita banggakan namun kondisi mangrove kita juga dalam keadaan kritis.

Kondisi mangrove di Gili Balu

Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai implementing agency Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI) atau dikenal dengan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang – Prakarsa Segitiga Karang tak hanya melaksanakan program untuk menjaga kelestarian terumbu karang Indonesia, tetapi juga ekosistem pesisir termasuk mangrove. 

Berikut cuplikan kegiatan COREMAP-CTI yang turut melestarikan mangrove, kegiatan ini didukungan oleh pendanaan hibah dari Asian Development Bank  yang dilaksanakan oleh mitra Grant Package VI yaitu PT. SUCOFINDO di Kawasan Konservasi Perairan Gili Balu, Nusa Tenggara Barat.

Kawasan pesisir Gili Balu adalah daerah yang terdiri gunung, perbukitan dan dataran rendah dengan topografi pesisir pantai berbentuk teluk. Daerah ini mempunyai potensi ekosistem mangrove yang cukup besar, bahkan terus sampai cukup jauh dari sungai-sungai yang ada, formasi mangrove terlihat masih mendominansi.

Hutan mangrove adalah formasi hutan pertama yang dapat ditemui dari daerah perairan laut bebas menuju daratan, dimana struktur vegetasi yang menjadi penghuninya secara morfologis dan fisiologis menyesuaikan diri dengan habitat yang ada. Sistem perakaran mangrove adalah sangat khas yang memungkinkan mangrove dapat bertahan hidup dalam pasang surutnya air laut. Keberadaan mangrove sangat penting adanya dalam pengertian ekologis, baik sebagai pertahanan daerah daratan terhadap gempuran air laut, juga sebagai habitat tempat berkembang biaknya banyak jenis ikan, udang dan banyak hewan vertebrata lainnya.

Pemanfaatan kawasan Gili Balu untuk berbagai aktivitas tentulah akan membawa dampak positif maupun negatif. Sebagai daerah peralihan antara lautan dan daratan, maka kawasan pesisir pantai mempunyai karateristik yang kompleks dengan variabilitas ruang yang tinggi. Oleh karena itu, peningkatan aktivitas perekonomian kawasan tersebut perlu diimbangi oleh upaya pengelolaannya yang terencana baik dan berwawasan lingkungan. Upaya pengelolaan tersebut perlu mendapat masukan yang akurat mengenai karakteristik dan kondisi wilayah pesisirnya. Gambaran mengenai kondisi hutan mangrove di kawasan Gili Balu merupakan informasi dan modal yang sangat penting dalam perencanaan pengelolaan sehingga dalam pemanfaatannya dapat memberikan hasil yang optimal dan berkesinambung.

Rehabilitasi Mangrove di Kawasan Gili Balu

Dalam rangka memulihkan kembali hutan mangrove, telah banyak dilakukan upaya rehabilitasi mangrove dengan melalukan penanaman kembali tanaman mangrove di daerah–daerah yang telah di tentukan, akan tetapi upaya rehabilitasi tersebut tidak selalu berhasil pencapaiain nya hal ini karena di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan program rehabilitasi mangrove di pengaruhi oleh beberapa aspek, baik itu aspek fisik, biologi maupun aspek sosial. Tidak hanya faktor lingkungan fisik saja yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove akan tetapi pola penanaman mangrove juga sangat berpengaruh.

Tim Grant Package VI telah menentukan dua pulau yang akan di rehabilitasi yaitu Pulau Namu dan Kalong. Kerapatan mangrove di Pulau Namo terdiri dari 3 kategori yakni kategori jarang 13 ha, sedang 14 ha. dan lebat 66 ha. Jika dilihat dari luas lahan lebih mendominasi pada kategori lebat.

Keterlibatan masyarakat dalam suatu program rehabilitasi menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam pencapaian sutu tujuan program. Masyarakat harus dilibatkan dalam sebuah program rehabiliasi mangrove ini dari mulai tahap perencanaan, implementasi sampai dengan monitoring. Partisipasi masyarakat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan rehabilitasi mangrove. Untuk melakukan rehabilitasi mangrove di kawasan Gili Balu dilakukan pola Kemitraan antara LSM Lingkungan Olah Hidup (LOH) dan kelompok masyarakat, khususnya kelompok Pokmaswas dalam rehabilitasi mangrove.

Pengelolaan wilayah pesisir khususnya dalam pengelolaan mangrove secara umum terdapat tiga komponen pokok yang harus diperhatikan dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mengrove khususnya dan sumber daya alam pesisir dan laut umumnya diantaranya aktivitas sosial (social  processes), ekonomi (economic processes) dan sumber daya alam itu sendiri (natural  processes). Ketiga komponen tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Pelibatan Masyarakat untuk Menanam dan Memelihara Mangrove

Grant Package VI  telah melaksanakan serangkaian kegiatan identifikasi lapangan yang telah dituangkan di dalam laporan pendahuluan dan pada kegiatan triwulan (April-Juni 2021), beberapa kegiatan yang  terlaksana di antaranya:

  • Pelatihan metode yang tepat untuk restorasi dan rehabilitasi mangrove di Gili Balu
  • Rehabilitasi / restorasi mangrove berbasis masyarakat, termasuk pemilihan baseline dan hasil survei.
  • Memberikan penilaian empiris berupa analisis Biaya-Manfaat termasuk penilaian jasa ekosistem rehabilitasi mangrove di Gili Balu
  • Infrastruktur kecil yang dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan kawasan berkelanjutan dan masyarakat. Serta dukungan operasional untuk POKMASWAS

Dampak proyek ini akan tampak dalam peningkatan kapasitas masyarakat untuk mendukung pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem dan mata pencaharian berbasis kelautan yang berkelanjutan.

Hasil proyek, efektifitas pengelolaan Gili Balu menurut penilaian EKKP3K saat ini berada pada tingkat hijau 81%. KKP Gili Balu masih kurang dalam memenuhi beberapa SOP terkait pengelolaan ekowisata, pengawasan, perikanan, dan pelaksanaan upaya pengawasan.

Pada akhir pelaksanaan proyek COREMAP-CTI ADB, kami memiliki visi bahwa Gili Balu akan mencapai tingkat efektivitas pengelolaan 100% Hijau dan dapat memulihkan/merehabilitasi 20% kawasan mangrove yang terdegradasi. Tujuan menyeluruh ini didukung secara langsung dan tidak langsung melalui penyelesaian keluaran di Grant Package VI.

Dalam bulan 3 bulan terakhir, pencapaian yang diperoleh, mencakup melakukan berbagai kegiatan sesuai program yang ditetapkan dan melakukan kordinasi dengan ICCTF, Bappenas, dan seluruh Instansi terkait Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa Barat dan aparatur pemerintahan di Kecamatan Poto Tano, CDK, Polsus/PPNS dan kelompok-kelompok masyarakat terkait seperti Kelompok Pokmasmas.

Untuk kegiatan baseline data dan Rehabilitasi dan Restorasi mangrove, telah melakukan kegiatan antara lain:

1) Identifikasi survei mangrove di Gili Balu;

2) Identifikasi survei berbasis kelautan di Gili Balu dan

3) Rehabilitasi Mangrove (Bibit Mangrove dan Pelibatan Masyarakat untuk Menanam dan Memelihara Mangrove).

Adapun rangkaian kegiatan selama 3 bulan terakhir adalah 1) Pemilihan Pola Restorasi; 2) Pelatihan dengan kegiatan; Pola Rehabilitasi Alami, Pola Pendukung Rehabilitasi Alami, Pola Pengayaan Tanaman, Pola Tanam; 3) Penentuan Jarak dan Sistem Tanam dan 4) Penentuan Jenis Tanaman; 5) Memantau hasil rehabilitasi / restorasi mangrove secara berkelanjutan. Untuk Achievement dan Accumulative Achievement masing-masing tercapai 100 %.

Memberikan penilaian empiris berupa analisis biaya-manfaat termasuk penilaian jasa ekosistem dalam rehabilitasi ekosistem, mencakup kegiatan 1) Analisis Biaya-Manfaat dan 2) Penilaian jasa ekosistem mangrove. Untuk melakukan Analisis Biaya-Manfaat, dilakuka kegiatan a) Survei Biaya-Manfaat; b) Menghitung biaya penanaman kembali mangrove (data luas areal penanaman kembali menggunakan data MRE) dan c) pendataan harga benih mangrove; dan d) FGD (Nelayan, Pemerintah Daerah, Kepala Daerah, dan Tenaga Ahli). Untuk Achievement dan Accumulative Achievement masing-masing tercapai 80 %.

Penilaian jasa ekosistem mangrove mencakup manfaat total dari rehabilitasi / restorasi ekosistem mangrove saat ini dan yang akan datang nilai ekosistem mangrove dan nilai saat ini menentukan nilai saat ini dari manfaat yang akan didapat dimasa yang akan datang. Untuk Achievement dan Accumulative Achievement masing-masing juga tercapai 80 %.

Mari Jaga Mangrove untuk Pesisir Tangguh!

Sumber artikel dan foto: Laporan Kegiatan Tiga Bulanan COREMAP-CTI ADB disusun oleh PT. Sucofindo (Persero)