October 19, 2018

Dalam Ajang Parallel Event IMF-WB Annual Meeting, Low Carbon Development Indonesia Report Resmi Dirilis

Ketika kondisi dunia kita sekarang telah berubah dengan cepat, eksistensi kehidupan manusia menghadapi sejumlah tantangan seperti dampak iklim yang ekstrim dan peningkatan suhu bumi antara 1,5 hingga 4 derajat Celcius yang secara signifikan mempengaruhi produktivitas makanan dan meningkatkan risiko bencana. Selain itu, tingkat deforestasi dan degradasi lahan yang tinggi, polusi udara dari kebakaran gambut dan bahan bakar fosil akan berdampak negatif terhadap produktivitas dan kualitas hidup manusia. Faktor-faktor ini tidak diragukan lagi membuat platform pembangunan yang rendah karbon penting untuk masa depan negara.

Mempertimbangkan bahwa perubahan iklim berpotensi merugikan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 20 persen, Pemerintah Indonesia tengah bekerja keras untuk Low Carbon Development Indonesia (LCDI). Telah banyak daya dan upaya terkait perencanaan pembangunan rendah karbon di Indonesia termasuk beberapa proyek contoh perencanaan pembangunan rendah karbon yang dikembangkan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama mitra-mitra pelakasana di daerah.

“Sebagai bentuk nyata komitmen dari implementasi LCDI ini, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas akan mengarusutamakan laporan LCDI tentang kerangka kerja pembangunan rendah karbon ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Ini akan menjadi rencana pembangunan rendah karbon pertama dalam sejarah Indonesia,” kata Prof. Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas dalam Pidato Kunci di acara Low Carbon Development and Green Economy di Nusa Dua, Bali (11/10/2018).

Dalam acara Low Carbon Development and Green Economy, yang merupakan Parallel Event serangkaian acara IMF-WB Annual Meeting di Bali, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas meluncurkan LCDI Report dengan tajuk Low Carbon Development: A Paradigm Shift Towards a Green Economy in Indonesia yang disusun bersama para mitra pembangunan dan Implementing Low Carbon Development in Indonesia: Lessons from the Field yang merupakan keluaran proyek-proyek ICCTF bersama mitra pelaksanan di tingkat tapak.

Laporan tersebut, tidak hanya berguna sebagai latar belakang membimbing penyusunan rencana pembangunan, tetapi juga diharapkancmempercepat pertumbuhan ekonomi yang cepat, mengurangi tingkat kemiskinan, dan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Hingga hari ini, ada contoh pembelajaran dari beberapa contoh proyek yang berfungsi sebagai implementasi percontohan LCDI. Pertama, proyek ICCTF di Jawa Tengah yang menggabungkan aksi perubahan iklim dengan pendapatan melalui investasi dalam bio-digester yang menghasilkan bioslurry dan kompos, meningkatkan kualitas tanah dan ekosistem untuk memulihkan bekas lokasi tambang. Pada saat yang sama, biogas diproduksi oleh bio-digester digunakan untuk memasok energi ke rumah tangga lokal. Inisiatif kecil ini telah menghasilkan pendapatan tambahan dan berkurang biaya rumah tangga untuk keluarga yang tinggal di sekitar proyek sambil mengurangi emisi GRK.

Lord Nicholas Stern, LCDI Commissioners dan Co-chair of the Global Commission on the Economy and Climate menilai bahwa dibuthkan kolaborasi kuat dari lembaga global dan pemimpin yang dipercaya dari pemerintah dan sektor swasta yang berkomitmen untuk pembangunan rendah karbon dan pertumbuhan hijau. Hal ini tentunya dapat membawa perubahan yang signifikan, yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia untuk menjadi lebih baik, lebih bersih, dan lebih banyak lagi masa depan yang sejahtera.

“Sangat nyata terlihat bahwa pertumbuhan karbon yang rendah baik untuk lingkungan dan baik untuk ekonomi. Indonesia perlu bergegas dalam mengejar keuntungan ekonomi dan sosial yang dapat diberikan oleh aksi perubahan iklim yang visioner. LCDI memberikan contoh praktis yang kuat ke seluruh dunia tentang bagaimana negara-negara dapat meningkatkan kehidupan dan penghidupan mereka hari ini, sambil melindungi lingkungan untuk besok,” kata Lord Stern.

Acara Low Carbon Development and Green Economy di Bali tersebut terselenggara melalui koordinasi antara ICCTF dengan Direktorat Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, dan bekerja sama dengan UK Climate Change Unit (UKCCU), Global Green Growth Institute (GGGI), New Climate Economy (NCE), dan World Resource Institute (WRI) yang mendapat tanggapan dan respon positif dari peserta yang hadir, yang berasal dari berbagai kalangan baik pemerintah nasional, pemerintah daerah, sektor swasta, kedutaan, mitra pembangunan, lembaga masyarakat sipil, akademisi, dan rekan-rekan media. Acara tersebut diisi oleh tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Boediono (Wakil Presiden selama masa jabatan kedua dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono), Mari Elka Pangestu (mantan Menteri Perdagangan), Ngozi Okonjo-Iweala (Co-chair of the Global Commission on the Economy and Climate), Paul Polman (CEO Unilever dan Co-chair of the Global Commission on the Economy and Climate), Lord Nicholas Stern (LCDI Commissioners dan Co-chair of the Global Commission on the Economy and Climate), Matthew Rycroft (UK Permanent Secretary), Naoko Ishii (CEO Global Environment Facility), Frank Rijsberman (Director General of GGGI), Remy Rioux (CEO Agence Française de Développement), dan Shinta Kamdani (President of the Indonesian Business Council for Sustainable Development).

Komitmen kuat dari Pemerintah Indonesia dan semua mitra pembangunannya untuk mencapai pembangunan rendah karbon dan pertumbuhan ekonomi hijau merupakan kunci sukses masa depan pembangunan berkelanjutan Indonesia.