June 16, 2021

Coremap-CTI ADB, Paket 6 Akan Rehabilitasi Mangrove Gili Balu di Poto Tano Sumbawa Barat

COREMAP-CTI yang merupakan fase ketiga dan fase terakhir diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan dan tantangan yang masih ada. Tujuan program COREMAP-CTI adalah pengelolaan ekosistem terumbu karang di Indonesia secara berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas untuk mengelola ekosistem terumbu karang di tiga Marine Protected Areal (KKL) di Bentang Laut Sunda Kecil.

Proyek dirancang dengan empat keluaran yang terdiri dari (i) Pengelolaan terumbu karang dan penguatan kelembagaan di wilayah proyek; (ii) Rencana pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem dikembangkan dan dijalankan; (iii) Peningkatan mata pencaharian berbasis laut yang berkelanjutan; dan (iv) Manajemen proyek, pemantauan dan transfer pengetahuan.

Grant Package 6 (GP. 6) dari proyek ini akan dilaksanakan di Kawasan Konservasi Perairan Gili Balu. Tujuan utama dari proyek COREMAP-CTI di bawah GP 6 adalah untuk membantu badan Pengelolaan KKL Gili Balu untuk mencapai tingkat efektivitas pengelolaan hijau (EKKP3K) 100%.

Peningkatan status efektivitas pengelolaan akan diupayakan melalui pengembangan pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem dan promosi mata pencaharian laut yang berkelanjutan.

Upaya perbaikan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dilakukan melalui kegiatan pokok sebagai berikut:

■ Rehabilitasi habitat kritis seperti restorasi mangrove di Gili Balu MPA dengan dukungan tambahan dari analisis biaya-manfaat termasuk penilaian jasa ekosistem pada rehabilitasi ekosistem.

■ Pembangunan infrastruktur kecil dan peningkatan kapasitas masyarakat untuk mendukung pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem dan mata pencaharian berbasis kelautan yang berkelanjutan.

Funding kegiatan adalah Asian Development Bank (ADB) melalui Bappenas, yang didampingi oleh ICCTF sebagai Kelompok Kerja, kemudian sebagai Mitra Pelaksana adalah PT. Sucofindo (Persero). PT. Sucofindo (Persero) mendapat kepercayaan, karena sudah berpengalaman di kegiatan Coremap sebelumnya, yaitu Coremap II di Pangkep dan Coremap CTI.

Survey lapangan yang telah dilakukan sejak bulan Maret 2021, di 8 pulau menunjukkan kondisi mangrove yang relative bagus. Kerusakan yang terjadi hanya di beberapa titik, akibat faktor alam.

Survey dilakukan dengan menggunakan Drone, pengamatan langsung di lapangan dan melakukan wawancara dengan semua stakeholder mengenai keberadaan Mangrove, pemanfaatan dan harapan terhadap ekosistem mangrove.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa masyarakat relative dapat menjaga mangrove dengan baik, akan tetapi belum mendapat manfaat ekonomi yang optimal. Beberapa masyarakat juga mengusulkan agar bisa dijadikan kawasan wisata, misalnya membangun Tracking Mangrove, Spot Selfie dll.

Pembahasan/diskusi rencana rehabilitasi telah dibahas, dengan melibatkan masyarakat dari 4 Desa, yaitu Desa Poto Tano, Senayan, Tuananga dan Kiantar. Setelah pembahasan, akan dilanjutkan dengan Pelatihan dan Praktek Lapangan.

Hadir dalam pertemuan antara lain Perwakilan Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Moh. Tafaul, SIP, Ketua Forum Pokmaswas, Syarifuddin Aris, Polsus PWP3K Sumbawa Barat, Arif Hasyim, S.Pi, perwakilan CDK Hary Ramdhani, S.Pi, Side Koordinator Lalu Alid dan Hardawiansyah, S.Pi sebagai Penyuluh Perikanan.

Pertemuan dipimpin oleh Dr. Ir. Edward Danakusumah, M.Sc selaku Ketua Tim, Dr. Ir. Andi Tamsil, MS, IPM., Dr. Ir. Ihsan, MS., dan Dr. Ismudi Muchsin, M.Sc masing-masing sebagai Tenaga Ahli.

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan, PT. Sucofindo (Persero) bersama Tenaga Ahli telah melakukan koordinasi dan konsultasi ke semua pihak di tingkat Propinsi NTB dan Kabubaten Sumbawa Barat, termasuk UPT dari Pusat.

Masyarakat sangat antusias untuk berpartisipasi dan berharap dilibatkan sejak proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan monitoring, termasuk kelompok ibu-ibu.

Pokmaswas juga berharap agar mendapat bimbingan dan dukungan dalam rangka operasional, manajemen dan keberlanjutan patrol, terutama pasca kegiatan Coremap CTI.

Untuk pelatihan dan praktek lapangan, akan dilakukan bekerjasama dengan LSM Lembaga Olah Hidup (LOH) Sumbawa Barat, yang akan dilaksanakan selama 2 hari (17-18 Juni 2021).

Persiapan pembibitan akan dilakukan di akhir Juni, dan penanaman direncanakan pada Oktober-November 2021. Beberapa teknik penyemaian dan penanaman telah disiapkan dan akan disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Jumlah bibit mangrove yang akan ditanam sekitar 25.000. Masyarakat berharap hasil pelatihan dan praktek bisa ditindaklanjuti setelah kegiatan selesai menjadi mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, terutama sebagai penyedia bibit mangrove.

Selain itu, masyarakat sangat berharap mendapat manfaat dari keberadaan Mangrove, misalnya melalui pembuatan paket wisata dan lain-lain. Salah satu fasilitas yang dibutuhkan untuk wisata mangrove adalah Tracking Mangrove. Untuk itu, masyarakat minta agar tracking mangrove bisa diprogramkan di waktu yang akan datang.■ fir