February 15, 2021

Baronang si Pembawa Keberuntungan

Perayaan Imlek memiliki berbagai tradisi yang menarik, salah satunya adalah berbagai macam sajian khas Imlek. Makanan yang disajikan biasanya memiliki filosofi tertentu sehingga harus disajikan saat perayaan tahun baru Imlek. Salah satu sajian khas Imlek yaitu ikan. Ikan disebut dengan kata “ ” dalam Bahasa Mandarin yang memiliki bunyi yang sama dengan kata surplus. Salah satu jenis ikan yang dijadikan sajian khas Imlek yaitu ikan baronang (Siganus spp).

Ikan baronang adalah salah satu sajian khas Imlek masyarakat Tionghoa di Batam, Kepulauan Riau. Masyarakat Tionghoa di sana percaya bahwa mengonsumsi ikan baronang pada saat Imlek akan membawa keberuntungan sepanjang tahun. Ikan yang biasa disebut dengan ikan dingkis di Batam ini menjadi sajian favorit saat perayaan Imlek di sana karena ikan ini biasanya bertelur pada saat itu. Konon saat ikan baronang bertelur, baunya tidak amis seperti biasanya.

Menurut Kordi (2011) ikan baronang merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang berasosiasi dengan padang lamun. Ikan baronang memanfaatkan padang lamun sebagai daerah asuhan, pemijahan, dan mencari makan. Ikan baronang yang merupakan ikan herbivora juga diketahui memanfaatkan lamun sebagai makanan utama. Dengan kata lain, seluruh siklus hidup ikan baronang dihabiskan di ekosistem lamun.

Studi korelasi antara kelimpahan ikan baronang dengan ekosistem padang lamun yang dilakukan pada tahun 2016 di Pulau Pramuka oleh beberapa peneliti dari Universitas Padjajaran menyebutkan bahwa kerapatan ekosistem lamun mempengaruhi kelimpahan ikan baronang. Pada ekosistem lamun yang rapat, dapat ditemukan populasi ikan baronang yang melimpah. Persentase pengaruh vegetasi lamun terhadap keberadaan ikan baronang sebesar 94,2%.

Mengingat besarnya pengaruh keberadaan vegetasi lamun terhadap kelimpahan ikan baronang, maka perlu dilakukan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan terhadap padang lamun agar keberadaan ikan baronang tetap terjaga sehingga tradisi menyajian ikan baronang sebagai sajian khas Imlek dapat tetap berlangsung. (JAM)