Peningkatan Kapasitas untuk Pemahaman Metodologi Baseline Ekosistem Karbon Biru dan Penerapannya
Lihat postingan asli →
Kementerian PPN/Bappenas melalui Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) menyelenggarakan kegiatan “Peningkatan Kapasitas untuk Pemahaman Metodologi Baseline Ekosistem Karbon Biru dan Penerapannya” di Manado, Sulawesi Utara, pada 13–15 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan daerah dalam menyusun baseline karbon biru yang akurat, transparan, dan dapat diverifikasi.
Tentang Kegiatan Ini
Selama pelatihan, peserta mendalami penyusunan baseline karbon biru dari hulu ke hilir — mulai dari fundamental karbon biru, metodologi pengukuran stok karbon, proses bisnis pengambilan dan pengolahan data, hingga prosedur Measurement, Reporting, and Verification (MRV) serta pelaporan dan pengelolaan data. Materi kelas kemudian dipraktikkan langsung melalui pelatihan dan praktik lapangan di ekosistem mangrove dan lamun.
Lebih dari Konservasi: Nilai Ekonomi bagi Masyarakat Pesisir
Dalam arahannya, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas menekankan bahwa pengelolaan karbon biru juga harus membuka nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Pengelolaan karbon biru bukan hanya soal konservasi, tetapi juga soal mengoptimalkan nilai ekonomi karbon sebagai nilai tambah bagi masyarakat pesisir. Agar klaim karbon diakui dan bernilai premium di pasar global, diperlukan kriteria High Integrity Carbon.
Metodologi: Akurat, Transparan, dan Terverifikasi Ilmiah
Dua sesi metodologi membuka pelatihan: peran karbon biru mangrove dan lamun Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim, serta konsep baseline dalam kerangka IPCC dan sistem tier.
Pemahaman metodologi pengukuran baseline karbon biru menjadi krusial agar perubahan stok karbon dapat diukur secara akurat, dilaporkan secara transparan, dan diverifikasi secara ilmiah.
Boundaries adalah aspek penting dalam pengukuran baseline: pengukuran awal dan pengukuran ulang wajib dilakukan di titik yang sama persis untuk melihat delta — apakah terjadi peningkatan stok (serapan) atau penurunan stok (emisi).
MRV dan Sistem Walidata
Sesi berikutnya membahas pengantar MRV dan baseline karbon biru, serta langkah-langkah penetapan baseline dan sistem walidata:
- Direktorat Konservasi Ekosistem — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP): MRV dan baseline sebagai fondasi transparansi dan akuntabilitas aksi iklim pendukung pencapaian NDC — dasar penetapan target mitigasi, penghitungan pengurangan emisi, dan perencanaan pembangunan.
- Dr. Frida Sidik — Pusat Riset Ekologi, BRIN: pengukuran data di daerah dengan metode terstandardisasi dan pelaporan ke wali data nasional sebagai fondasi kredibilitas pelaporan target iklim nasional dan pasar karbon.
Dari Teori ke Praktik: Worksheet dan Survei Lapangan
Melalui sesi pengisian worksheet, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga berlatih menyusun baseline yang aplikatif — bekal bagi daerah untuk mendukung pelaporan NDC, memperkuat sistem MRV, dan membuka akses ke skema pembiayaan karbon berbasis kinerja. Pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan survei mangrove dan lamun, dipandu para pemateri:
- Yahya Rachmana Hidayat — Direktur Eksekutif ICCTF–Bappenas: praktik pengambilan sampel membekali peserta keterampilan teknis dan tactical skills melalui interaksi langsung dengan lapangan dan ekosistem.
- Setyawati — Direktur Pembiayaan dan Hibah Luar Negeri, Kementerian PPN/Bappenas: dukungan hibah langsung AFD memperkuat kerja sama pembangunan Indonesia–Prancis untuk kebijakan, kapasitas, dan data karbon biru yang kredibel.
- Antonius P. Rumengan — Pemateri Survei Ekosistem Pesisir: survei bukan sekadar mengambil data — metode yang tepat, pencatatan yang konsisten, dan keselamatan adalah awal kualitas data, dari mangrove hingga lamun.
- Ruddy Jacobus — Hukum Tua Desa Darunu: Darunu Mangrove Park sebagai ruang belajar generasi muda, dengan perpustakaan terapung dan edukasi rutin bagi masyarakat Desa Darunu.
Dukungan AFD
Kegiatan ini didukung hibah langsung dari Agence Française de Développement (AFD) — bagian dari kerja sama pembangunan Indonesia dan Prancis dalam penguatan kebijakan, kapasitas, dan data karbon biru yang kredibel sebagai dasar pengelolaan ekosistem pesisir yang berkelanjutan.
Langkah Berikutnya
Penguatan kapasitas ini menjadi fondasi penting untuk mendukung pencapaian target iklim Indonesia dan pengembangan nilai ekonomi karbon, sekaligus memastikan pengelolaan ekosistem karbon biru memberi nilai tambah nyata bagi masyarakat pesisir. Terima kasih kepada para narasumber, mitra, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi.
Ikuti Perjalanan Karbon Biru Bersama Kami 🌊
Dukung upaya memperkuat data dan kapasitas karbon biru Indonesia untuk iklim dan masyarakat pesisir.