December 11, 2020

Jaga kelestarian SDI, RI serius rehabilitasi terumbu karang

Indonesia berada di kawasan segitiga terumbu karang dunia dengan jenis paling beragam. Karena itu, dibutuhkan atensi serta perhatian khusus dalam pengelolaannya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menuturkan keseriusan dalam memelihara terumbu karang sejatinya bukan hanya untuk kepentingan masyarakat Indonesia, tapi juga penduduk dunia.Ia menjelaskan terumbu karang di Indonesia merupakan salah satu ekosistem yang membentuk kekayaan sumber daya, karena luas terumbu karang Indonesia adalah 14% dari luas terumbu karang dunia.

Dari luasan tersebut, Indonesia memiliki 596 jenis terumbu karang, dan itu merupakan rumah bagi 39% jenis karang yang ada di dunia. “Kalau saya tidak salah, itu terbanyak di Raja Ampat sekitar 80%,” kata Suharso dalam Kick Off Coremap-Coral Triangle Initiative (CTI): Melestarikan Terumbu Karang untuk Kesejahteraan Masyarakat secara virtual, Jumat (13/11/2020).

Dia menuturkan, langkah Indonesia untuk perlindungan ekosistem terumbu karang sejalan dengan komitmen global yang dituangkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), pada butir 14. Yaitu bicara mengenai kehidupan di bawah air, yang bertujuan untuk melestarikan sumber daya ikan (SDI) dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.

Selain itu juga sejalan dengan kebijakan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Menurut Suharso, kerangka ini merumuskan langkah untuk mengelola sumber daya kelautan secara opimal dan berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Karena itu, guna menjaga kelestarian terumbu karang, Bappenas melalui kegiatan COREMAP-CTI atau dikenal dengan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang-Prakarsa Segitiga Karang, berharap dapat menjaga kelestarian terumbu karang.Sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya yang mengandalkan laut dalam kehidupan mereka.

“Mari kita jaga sumber daya alam kita, laut hari ini. Yang hari ini kita hanya dititipkan, karena itu ada pewarisnya. Mari kita tekankan kembali laut kita adalah warisan, our ocean our legacy,” tuturnya.

Kesempatan sama, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menjelaskan Indonesia merupakan penghasil koral terbesar di dunia.Namun sayang, pemanfaatan koral sampai saat ini belum terarah serta tersusun dengan rapi.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan koral adalah salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia. Maka, hal itu harus dilindungi agar mereka yang bergantung pada pekerjaan tersebut bisa menghidupi keluarga beserta lingkungannya.

Edhy menuturkan, terumbu karang juga penting dijaga karena banyak sekali manfaatnya, terutama bagi kelestarian sumber daya ikan. Menurutnya di Indonesia kini ada 38 wilayah yang didedikasikan untuk kawasan konservasi di sektor terumbu karang.

Dia menuturkan, menanam satu terumbu karang sama seperti menanam 20 pohon di daratan. Satu terumbu karang juga bisa menghasilkan oksigen 20 kali lebih besar daripada pohon di daratan.

“Terumbu karang tidak hanya jargon kita ke dunia. Tapi menjaga alam kita. Menjaga keberlangsungan alam kita, keberlanjutan ikan-ikan yang kita konsumsi. Tanpa kerumbu karang jangan pernah berpikir sumber daya ikan kita akan terus berkembang, malah kita akan kekurangan,” ungkap Edhy.

Sebab itu, Edhy mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga dan melestarikan terumbu karang, karena terumbu karang juga bermanfaat dalam meningkatkan ekonomi di kawasan pesisir nasional. “Terumbu karang menjadi isu penting dalam dunia. Makanya kalau Menko Maritim menyampaikan Indonesia adalah negara penghasil karbon terbesar di dunia, ini patut kita banggakan,” jelasnya.

KKP sendiri menempatkan program pelestarian dan pengelolaan terumbu karang menjadi program prioritas. Targetnya, 10% dari luas perairan Indonesia (setara 32,2 juta hektare) menjadi kawasan konservasi perairan yang termanfaatkan secara berkelanjutan pada 2030. Saat ini, luasan yang dicapai 23,34 juta ha atau 7,18%.

“Kalau kita menanam sejuta terumbu karang, berarti kita menanam 20 juta pohon. Ini bukti empiris yang harus kita sadari. Jadi mengapa (menanam terumbu karang) harus menunggu nanti-nanti? Menanam terumbu karang bukan hal yang sulit, sangat mudah dilakukan,” terang dia.

Edhy mengatakan, pelestarian dan pengelolaan terumbu karang hasilnya akan berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi pesisir.Mengacu pada kajian United Nations Environment Program dua tahun lalu, nilai ekonomi terumbu karang Indonesia mencapai US$37 miliar pada 2030 bila dikelola dengan baik.

“Nilai itu tidak semata-mata dari perikanan, tapi juga dari sektor pariwisata dan sektor lainnya yang berkaitan dengan perekonomian pesisir,” pungkasnya.

Sumber artikel kabarbisnis.com tayang pada 13 November 2020