Back to News

Usaha Adaptasi Desa Terhadap Perubahan Iklim melalui Budidaya Padi SRI (System of Rice Intensification) Berhasil Meningkatkan Hasil Panen Sampai 100% di Desa Tarus dan Baumata, NTT

January, 23 2018
By Admin

KUPANG, 21 Oktober 2017 – Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), sebagai satu-satunya lembaga dana perwalian untuk perubahan iklim Indonesia, dan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menerapkan pengembangan budidaya bibit padi SRI (System of Rice Intensification) yang mampu meningkatkan hasil panen hingga naik 100% dari bibit padi yang biasa digunakan dengan kebutuhan air yang lebih sedikit, di desa Baumata, Tabenu dan Tarus, Kabupaten Kupang - Nusa Tenggara Timur

Demplot SRI ICCTF-FTP UGM ini dilaksanakan mulai musim tanam kedua (Mei) tahun 2016 dan berlangsung sampai sekarang. Penanaman padi dilakukan 2 kali dalam setahun. Hasil demplot menunjukkan terjadi peningkatan produktivitas padi dengan metode SRI. Jika rata-rata metode konvensional menghasilkan 5-6 ton/ha, di Baumata dengan metode SRI dapat meningkatkan produktivitas padi 3 ton/ha. Peningkatan signifikan terjadi di Desa Tarus yang semula rata-rata hasil panen padi 5,6 ton/ha, menjadi 12 ton/ha dengan metode SRI pada musim tanam satu (musim hujan, awal tahun).

Budidaya padi SRI ini memiliki kelebihan yaitu hemat air, hemat bibit, hemat biaya, hemat waktu, dan organik sehingga rendah emisi dan ramah lingkungan. Upaya budidaya padi SRI ini merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim mengingat efek buruk dari perubahan iklim sudah dirasakan oleh banyak masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih bagi Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah beriklim kering yang dipengaruhi angin musim, sektor pertanian seperti padi sering sekali mengalami kesulitan dalam mendapatkan hasil panen yang konsisten. Metode SRI menjawab tantangan masyarakat petani terutama di daerah kering dan rentan sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang paling tepat guna. Kegiatan adaptasi dalam program ini bertujuan untuk mengembangkan strategi ketangguhan iklim dan mencegah kerentanan petani serta lahan pertaniannya akibat kekeringan melalui budidaya SRI dan informasi Pertanian berbasis teknologi aplikasi.

 


Pada Perayaan Panen Raya Padi SRI di Desa Tarus, Kupang pada hari Sabtu (21/10) dihadiri Drs. Frans Lebu Raya, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Dr. Tonny Wagey, Direktur Eksekutif Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Ir. Rohmad Supriadi, Msi., Kepala Biro Perencanaan, Organisasi dan Tata Laksana (Renortala) Kementerian PPN/Bappenas dan Dr. Murtiningrum, Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ir. Rohmad Supriadi, Msi.Kepala Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana (Renortala) Kementerian PPN/Bappenas mengatakan dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini amat berpengaruh terutama kepada kelompok masyarakat yang hidup menggantungkan mata pencahariannya pada sumber-sumber alam. Terlebih kaum petani, sangat perlu beradaptasi dengan perubahan iklim karena adanya perubahan curah hujan, suhu udara, dan ketersediaan air yang menentukan waktu tanam, varian tanaman dan pola tanam. Perubahan ini mengancam produksi tanaman pertanian dan menambah angka kemiskinan di daerah rentan.

Dr. Tonny Wagey, Direktur Eksekutif Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) mengatakan bahwa ‘’Metode SRI merupakan sebuah inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus sebagai upaya adaptasi untuk mengantisipasi perubahan iklim. Sektor Adaptasi dan Ketangguhan merupakah salah satu fokus area pendanaan ICCTF.’’ SRI merupakan metode berkelanjutan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda (7 hari setelah pembenihan), jarak tanam lebar, pupuk organik, irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan, yang memiliki produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan sistem konvensional. Sistem konvensional menggunakan bibit umur lebih panjang (25 hari setelah pembenihan), penggenangan air secara terus-menerus, jarak tanam rapat, dan pemakaian pupuk kimia yang tinggi. Dr. Tonny Wagey menambahkan ‘’sementara itu, untuk memantau dan merekam data cuaca di wilayah pertanian di Desa Tarus dan Baumata ini kami telah mengembangkan teknologi telemetri untuk menganalisis iklim mikro seperti hujan, suhu, dan kelembapan tanah yang dapat diakses oleh kelompok tani di lokasi program.’’

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas petani padi provinsi NTT berada dibawah rata-rata nasional pada tahun 2015 sebesar 3.56 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar atau 67 persen dibawah produktivitas nasional yang berada pada level 5.34 ton per hektar. Produktivitas petani padi NTT jauh dibawah provinsi tetangga seperti NTB dengan 5.17 ton per hektar atau Maluku dengan 5.57 ton per hektar. Oleh karena itu, dengan metode SRI, diharapkan akan ada perbaikan produktivitas padi di NTT. Dengan melihat karakter iklim dan topografi NTT, jika metode SRI diterapkan dalam skala lebih luas, dan disertai pendampingan dalam hal proyeksi cuaca untuk menentukan masa tanam berbasis teknologi, maka besar potensi NTT menjadi provinsi yang swasembada beras (produktivitas dapat meningkat signifikan) di masa datang dan dengan demikian meningkatkan kesejahteraan petani.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya mengatakan sistem budi daya padi SRI merupakan sistem yang patut dicontoh dan diimplementasikan di seluruh NTT sehingga masyarakat dapat sejahtera walaupun dalam kondisi perubahan iklim. Sistem ini sebagai solusi dari persoalan masyarakat petani di Desa Baumata dan Tarus yang terkendala persediaan air untuk irigasi pertanian. ‘’Semoga metode ini dapat diterapkan diseluruh NTT, karena hasil nyatanya sudah dirasakan oleh petani di Tarus dan Baumata.’’

Bapak Yanes Sain, anggota kelompok petani Desa Tarus turut menyampaikan antusiasme dan rasa syukur karena telah merasakan dampak positif dari program SRI ini. ‘’Kami petani merasa terbantu dengan program ini karena ada nilai lebih yang kami rasakan. Dari 10 are demplot biasanya hasil panen sebesar 600 kg gabah, sejak menggunakan metode SRI produksi padi meningkat seratus persen menjadi 1.200 kg. Awalnya petani masih ragu, karena pola tanam 1 anakan ini kami anggap sangat beresiko. Sebaiknya program ini dikembangkan dan disebarluaskan ke petani lainnya di Kupang, sehingga dapat memperbaiki taraf hidup petani disini, karena kami sudah merasakan dampak baiknya.’’

Dr. Murtiningrum, Sekretaris Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan dalam  pengimplementasian program budidaya padi SRI ini, dipilihlah Desa Baumata, Kecamatan Tabenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pemilihan dikarenakan karakteristik desa yang berpenduduk 2.442 jiwa dan 95% warganya bermata pencaharian sebagai petani namun kurang memadainya infrastruktur irigasi serta jalur irigasi yang tidak permanen membuat resiko gagal panen di desa ini sangat besar. Tercatat di tahun 2015, dari 146 hektar lahan pertanian di Desa Baumata, 34,5 hektar gagal panen.

Lebih dari itu, melalui implementasi program ini masyarakat juga dilibatkan dalam menganalisis ekologi dan perubahan iklim melalui penerapan teknologi telemetri, sehingga masyarakat menjadi lebih memahami manajemen pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, program yang dilakukan  dapat mendorong kemandirian kelompok tani dalam menentukan metode pertaniannya mulai dari proses pembibitan, penyimpanan, hingga pendistribusian hasil pertanian yang menguntungkan masyarakat itu sendiri.

Tonny Wagey menambahkan dalam menghadapi perubahan iklim adaptasi adalah bagaimana manusia dan ekosistem bersinergi. Program di NTT ini berpotensi menjadi percontohan nasional dan internasional  yang harus diselaraskan dengan kebijakan dan program pemerintah nasional maupun daerah. Terkait budidaya padi SRI telah banyak penelitian yang membuktikan hasil optimal yang membandingkan hasil budidaya padi SRI dengan sistem konvensional. Sebagai contoh, budidaya SRI dapat meningkatkan produktivitas lahan 100% di Madagaskar,65% di Afghanistan, 42% di Iraq, dan 11.3% di China.