May 26, 2020

Teknologi Perikanan Di Masa Pandemi Covid-19

PADA pertemuan mengenai Kebijakan Kelautan Indonesia pada bulan Maret yang lalu, Presiden Joko Widodo menekankan bahwa kebijakan kelautan harus dapat mengantisipasi dan mengadaptasi perkembangan teknologi baru.

Sehingga industri perikanan Indonesia semakin produktif dan kompetitif dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya perikanan. Instruksi ini sekaligus mendorong secara langsung proses percepatan transformasi industri perikanan nasional untuk beradaptasi dengan teknologi terbaru demi meningkatkan daya saing di era revolusi industri 4.0 terlebih pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang.

“Bukan yang paling kuat dan pintar yang mampu bertahan hidup, tetapi yang paling bisa beradaptasi terhadap perubahan lingkungan,” demikian pendapat Charles Darwin, seorang naturalis yang hidup pada abad 19. Kemampuan beradaptasi merupakan kunci utama untuk bertahan di tengah perubahan yang terjadi. Demikian pula dengan adaptasi teknologi di masa pandemi Covid-19 saat ini yang dirasakan mendesak untuk menjawab tantangan secara cepat, baik di hulu maupun hilir kegiatan industri terutama pada sektor perikanan. Seperti tantangan menjaga seimbangan antara kebutuhan dan pasokan serta distribusi ikan antara satu daerah dengan yang lain atau pengaturan pola dan cara tangkap ikan di laut sehingga nelayan dapat memperoleh ikan secara efisien. Berbagai adaptasi teknologi dapat dilakukan baik melalui inovasi yang sederhana seperti teknologi digital hingga yang kompleks dengan mengunakan aplikasi Data Besar (Big Data) atau Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligent).

Adaptasi teknologi terbukti menimbulkan dampak positif untuk mempercepat suatu proses kegiatan, menjaga kualitas lingkungan dan menjamin mutu suatu produk hingga tumbuhnya unit usaha lain yang mendukung usaha yang ada (multiplier effect). Namun adakalanya teknologi tersebut agar dapat digunakan secara optimal di tengah masyarakat, harus melalui proses penyempurnaan terlebih dahulu. Kecerdasan Buatan pada Industri Perikanan Kecerdasan buatan sebenarnya bukan hal baru dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh pengunaan peta digital seperti google map untuk mengetahui arah dan waktu tempuh suatu perjalanan. Atau jasa antar dan jemput barang, hanya dengan mengunakan aplikasi tertentu barang tersebut dapat tiba di tujuan dengan cepat tanpa penguna harus keluar dari rumahnya. Demikian pula pada sub-sektor perikanan tangkap, kecerdasan buatan mulai di gunakan secara global untuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di banyak negara. Jepang, Kanada, Taiwan dan Amerika Serikat adalah beberapa negara yg telah berhasil memadukan data satelit dengan sistem Kecerdasan buatan untuk memantau aktifitas kapal di tengah lautan secara langsung, mengidentifikasi ukuran kapal dan jenis alat tangkap yang di gunakan.

Hal ini sangat membantu dalam penanganan IUU fishing dan pengelolaan perikanan tangkap secara efektif. Pada gilirannya konsumen pun dapat mengetahui sumber dan cara penangkapan ikan yang digunakan, informasi ini akan mempengaruhi harga pasar dari setiap ikan yang di jual. Pada sub-sektor perikanan budidaya, pemanfaatan kecerdasan buatan mulai meningkat dalam satu dekade terakhir baik untuk menganalisa kualitas air, perubahan lingkungan atau mengetahui kondisi ikan. Pengunaan kamera bawah air yang terintegrasi dengan system kecerdasan buatan mampu mengetahui keadaan dan berat ikan sehingga pemberian pakan dapat disesuaikan dengan bobot ikan tersebut. Negara seperti Jepang dengan jumlah produksi ikan lebih dari 4,4 juta ton atau senilai USD16,1 miliyar pada tahun 2018 (data Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang), terus berinovasi dalam pengunaan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produksi perikanan budidayanya. Tidak hanya itu, dengan kombinasi data sosial-ekonomi, pembudidaya dapat mengestimasi laju pertumbuhan ikan dan sekaligus mampu memprediksi waktu yang tepat melakukan panen untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan harga yang terbaik. Yang pada tahun 2018, nilai hasil perikanan budidaya tersebut berkisar USD 5,25 milyar. Jika di bandingkan dengan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait produksi perikanan budidaya Indonesia di tahun yang sama yakni 5,6 juta ton atau 57% dari produksi perikanan nasional, dengan nilai export mencapai lebih dari USD 2,5 milyar.

Sementara menurut hasil riset yang dilakukan oleh Institut Ekonomi Yano, diproyeksikan peluang pasar untuk perikanan budidaya di Jepang mencapai USD 19 milyar pada tahun 2021 yang akan datang. Negara-negara skandinavia seperti Norwegia dan Finlandia, telah mengembangkan sistem kecerdasan buatan untuk pengelolaan kawasan budidaya ikan Salmon yang letaknya beberapa kilometer dari garis pantai. Dengan teknologi pengamatan jarak jauh (telemetri), laju pertumbuhan biomasa, pola makan dan jumlah populasi ikan dapat diketahui bahkan perubahan kondisi perairan laut pun dapat diprediksi. Hal ini membantu efisiensi biaya operasional yang signifikan hingga 50-60% dan mengurangi jumlah jejak carbon serta sekaligus menjaga kualitas lingkungan di perairan tersebut. Menurut data dari Norwegian Seafood Council (NSC), Norwegia telah mengeksport sekitar 2,7 juta ton ikan laut dengan nilai US$ 10,4 Miliyar pada tahun 2019 yang sebagian besar (71%) merupakan hasil budidaya perikanan dengan perpaduan sistem kecerdasan buatan yang baik. Hilirisasi Industri Perikanan Nasional Di Indonesia, pengunaan sistem kecerdasan buatan yang terintegrasi untuk industri perikanan masih kurang mendapatkan perhatian karena terbatasnya informasi dan biaya yang dirasa tinggi dalam proses pengembangannya. Namun dalam skala kecil, kecerdasan buatan yang sederhana telah di gunakan oleh pembudidaya seperti sistem otomatisasi pengaturan pakan ikan atau pengunaan akustik untuk mengestimasi populasi serta densitas ikan.

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, masyarakat membutuhkan protein hewani khususnya dari Ikan untuk menjaga imunitas tubuh. Menurut data KKP tahun 2019, konsumsi ikan nasional berkisar 54,5 kg perkapita. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan tersebut, pengunaan kecerdasan buatan harus berperan lebih besar pada hilirisasi hasil produksi perikanan nasional. Seperti menyediakan informasi yang akurat guna mengetahui jumlah kebutuhan dan ketersediaan pasokan ikan serta distribusinya di masyarakat. Untuk menjawab hal tersebut di perlukan data dasar yang meliputi

(1) pemetaan secara detail karakter kantong-kantong produksi ikan nasional,

(2) mengetahui jumlah kebutuhan dan populasi tiap daerah kota/kabupaten,

(3) kapasitas ruang penyimpanan atau cold storage dan

(4) alternatif transportasi yang tersedia. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk melakukan tindakan yang cepat menjaga rantai pasokan dan distribusi hasil perikanan antar daerah bahkan antar pulau di tanah air.

Pencapaian Target Perikanan Nasonal Pengembangan platform kecerdasan buatan yang terintegrasi adalah hal yang mendesak untuk menjawab tantangan pada kondisi seperti ini. Suatu platform yang tidak hanya dapat memahami proses produksi atau mengetahui ketersediaan dan kebutuhan pangan saja tapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan perilaku kebutuhan dan keinginan di tengah masyarakat. Indonesia diuntungkan dengan letak geografis dan panjang garis pantai lebih dari 108.000 km yang sangat mendukung untuk pengembangan industri perikanan di tanah air, termasuk peluang budidaya lepas pantai yang belum digarap optimal hingga saat ini. Dengan pengunaan platform kecerdasan buatan yang terintegarsi tersebut, pencapaian target pemerintah untuk meningkatkan produksi dan mengenjot ekspor ikan terutama udang hingga 250% pada tahun 2024 adalah suatu keniscayaan.

Ditulis oleh Andreas A. Hutahaean, PhD Kedeputian Sumberdaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

EDITOR: YELAS KAPARINO Artikel ini telah tayang di Rmol.id