May 12, 2020

Sembilan Tahun Peringati Hari Terumbu Karang Dunia, Bagaimana Kondisi di Indonesia?

Sembilan tahun sudah Indonesia memperingati tanggal 8 mei sebagai hari terumbu karang. Peringatan yang sudah berlangsung sejak 2009 itu, selalu dijadikan momentum untuk menjaga keberadaan terumbu karang di seluruh wilayah perairan Indonesia.

Tahun ini, Indonesia kembali memperingatinya dengan menggelar berbagai kegiatan yang salah satunya dilaksanakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kegiatan yang bertema “Lautku Bersih, Terumbu Karangku Sehat” itu seperti pembersihan terumbu karang dan kawasan pantai di perairan pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta dan kampanye edukasi terumbu karang di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta.

Plt Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengatakan dengan kegiatan, LIPI mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian terumbu karang. Dengan kampanye di lapangan, masyarakat diberikan penyadartahuan tentang pentingnya karang bagi kehidupan sehari-hari, pentingnya menjaga kebersihan laut dari sampah, serta aksi nyata pembersihan pantai dan ekosistem terumbu karang.

“Berbagai kegiatan ini diselenggarakan guna menjaga kelestarian terumbu karang yang saat ini masih terancam rusak dan juga keanekaragaman hayati laut secara umum. Indonesia merupakan negara maritim yang kaya dengan hasil laut dan sudah sepatutnya kita ikut menjaga kekayaan alam tersebut. Salah satu kekayaan laut Indonesia yang sangat mempesona adalah kecantikan terumbu karangnya,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI Dirhamsyah menjelaskan, penyebab kerusakan area terumbu karang sangat beragam, mulai dari faktor alami lingkungan hingga faktor antropogenik atau perbuatan manusia. Salah satu faktor yang menyebabkan kematian karang adalah eutrofikasi atau kelebihan nutrient dalam perairan yang utamanya disebabkan oleh banyaknya sampah-sampah organik maupun anorganik yang dibuang ke laut.

“Lalu, ada pula cara berfikir masyarakat yang menempatkan laut sebagai tempat pembuangan sampah dan berbagai polusi dari aktivitas kita sehari-hari turut berkontribusi bagi kerusakan terumbu karang dunia,” tuturnya.

Terlengkap

Indonesia sendiri, menurut Direktur Eksekutif The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) Widi Pratikno, adalah satu dari enam negara yaitu Timor Leste, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon, yang memiliki tingkat keberagaman biodiversitas laut sangat tinggi.

“Negara-negara ini adalah pemegang wilayah perairan dengan terumbu karang terluas di dunia. Wilayah keseluruhan negara-negara ini masuk dalam area Coral Triangle atau Segitiga Karang dunia. Di wilayah ini, terumbu karang yang ada mencakup 53 persen di dunia. Sangat luas,” ujarnya.

Dengan cakupan setengah lebih dari total kawasan terumbu karang dunia, Widi menyebut, tidak mengherankan jika kawasan Segitiga Karang menjadi tempat pusat berkumpulnya beragam jenis biota laut. Di Indonesia, kawasan yang paling banyak berkumpulnya terumbu karang dan biota laut, adalah kawasan timur Indonesia.

Tercatat, perairan di Provinsi Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara menjadi tempat favorit biota laut untuk berkumpul. Di perairan Raja Ampat, Papua Barat; dan Maluku Utara, diketahui setidaknya terdapat minimal 600 spesies koral atau mencapai 75 persen dari total spesies yang dikenal di dunia.

Widi menjelaskan, tak hanya dihuni oleh spesies koral yang sangat banyak, kawasan Segitiga Karang juga menjadi tempat berkumpulnya sekitar 3.000 spesies ikan, dan menjadi tempat tumbuhnya hutan bakau terbesar di dunia. Dengan kondisi tersebut, kehadiran terumbu karang akan bisa memberi kenyamanan biota laut yang ada, karena menjadi tempat bertelur dan berkembang biak beragam jenis ikan, termasuk tuna.

Tentang terumbu karang, LIPI pada medio 2017 sudah merilis kondisi terumbu karang di Indonesia. Pengamatan yang dilakukan sejak 1993 itu, mendapatkan fakta bahwa kondisi terumbu karang di seluruh perairan Indonesia terus memperlihatkan kondisi yang membaik. Tetapi, LIPI menyebutkan, dari seluruh terumbu karang yang ada, kondisi yang masih sangat baik tersisa 6,39 persen saja.

Menurut Dirhamsyah, terumbu karang yang kondisinya membaik, adalah terumbu karang yang sebelumnya mengalami kerusakan atau terancam mati, pelan-pelan berhasil memulihkan kondisinya hingga kembali sehat. Fakta tersebut, cukup bagus, mengingat di penghujung 2016 terjadi sedikit penurunan disebabkan pada 2015 dan 2016 hampir di seluruh perairan Indonesia dilaporkan terjadi pemutihan karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama.

Selama pemantauan yang dilakukan jangka panjang, Dirhamsyah memaparkan, pihaknya berhasil melakukan verifikasi dan analisa data kondisi terumbu karang di perairan Indonesia yang semua datanya diambil dari 108 lokasi dan 1.064 stasiun di seluruh Indonesia. Data tersebut, berikutnya akan dimasukkan ke dalam Program Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) yang dilaksanakan Pemerintah Indoensia.

Lebih lengkap, Dirhamsyah menjelaskan, dari hasil pemantauan, kondisi terumbu karang yang dinyatakan masih sangat baik, kini tinggal 6,39 persen saja. Kemudian, terumbu karang yang kondisinya baik saat ini mencapai 23,40 persen, kondisi cukup sekitar 35,06 persen, dan kondisi jelek berkisar 35,15 persen.

Pengukuran kondisi tersebut, kata dia, didasarkan pada persentase tutupan karang hidup yaitu kategori sangat baik dengan tutupan 76-100 persen, kategori baik dengan tutupan 51-75 persen, cukup dengan tutupan 26-50 persen, dan jelek dengan tutupan 0-25 persen.

Kesadaran Rendah

Profesor riset bidang biologi laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono menambahkan, dari semua terumbu karang yang mengalami kerusakan akibat terkena pemutihan (white bleaching) massal, sebagian besar timbul karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga biota laut tersebut. Padahal, keberadaannya sangat berharga karena pertumbuhannya sangat lamban setiap tahun.

Kejadian pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca El-Nino. Selain itu, para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

Di sisi lain, Suharsono menyebutkan, hasil pengamatan di lapangan pada beberapa lokasi, masih ditemukan aktivitas merusak, seperti penangkapan ikan menggunakan bom, pencemaran dan peningkatan pengembangan di wilayah pesisir.

“Pada kondisi terumbu karang sangat baik, walaupun cenderung konstan, namun pada 2016 terjadi kenaikan sebesar 1,39 persen, sebagai indikasi peningkatan luasan dan efektifitas kawasan konservasi perairan serta upaya rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di Indonesia,” kata dia.

Sebaran terumbu karang yang ada di Indonesia bisa ditemukan mulai dari perairan Sabang (Aceh) hingga Merauke di (Papua). Konsentrasi sebaran tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku.

“Wilayah yang disebut itu, sekaligus menjadi pusat segitiga keanekaragaman karang dunia atau coral triangle,” tandasnya.

Dari hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, Suharsono menyebutkan, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km persegi atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia yang mencapai luas 284.300 km2. Luas tersebut menyumbang sekitar 34 persen dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia yang mencapai luas 73.000 km2.

“Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia,” paparnya.

Dia mencontohkan, jenis karang Acropora di Indonesia jumlahnya mencapai 94 jenis dari total 124 jenis atau mencapai 70 persen karang Acropora yang ada di dunia. Sementara, jenis karang Famili Fungiidae, ditemukan 41 jenis dari total 43 jenis yang ada di dunia atau sekitar 90% tersebar di perairan Indonesia.

Untuk jenis-jenis karang endemik yang ditemukan di perairan Indonesia, Suharsono menyebut antara lain Acropora suharsonoi, Isopora togeanensis, Acropora desalwi, Indophyllia macasserensis dan Euphyllia baliensis.

“Jenis karang dengan sebaran terbatas dan merupakan share stock dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik juga ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora kasuarini, Acropora rudis dan Acropora turtuosa,” paparnya.

sumber artikel: mongabay.co.id