March 17, 2020

Dampak Perubahan Iklim, Terumbu Karang Indonesia Bisa Hilang di 2050?

Jakarta — Ketua Tim Pokja Kelautan dan Perikanan Indonesia Climate Change Trust Fund, Tonny Wagey, menjelaskan bagaimana cara Indonesia mengatasi degradasi kualitas wilayah pesisir, khususnya ekosistem terumbu karang.
Dalam sesi diskusi Ekosistem Laut di acara Sustainable Development Goals (SDGs) Annual Conference 2019, Tonny mengatakan, Indonesia berada di Segitiga Terumbu Karang sehingga dijuluki sebagai “The Amazon of the Ocean”.

1. Perubahan iklim bisa mengancam hilangnya terumbu karang.

Menurut Tonny, perubahan iklim (Climate Change) bisa mengancam anak cucu kita tidak dapat melihat terumbu karang lagi. Karena itu, perlu usaha untuk menjaga kelestarian terumbu karang, sehingga generasi yang akan datang masih dapat melihat indahnya terumbu karang bumi pertiwi. “Pada 2050 kita bisa gak lihat coral (karang) lagi, dampak perubahan iklim itu tidak dapat kita hindari,” ujar Tonny dalam diskusi SGDs Annual Conference yang berlangsung di salah satu hotel di kawasan Jakarta, Selasa (8/10). Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian terumbu karang adalah memperkuat pemantauan ekosistem pesisir dan meningkatkan mata pencaharian yang berbasis kelautan berkelanjutan.

2. Nilai ekonomi dari wilayah Segitiga Terumbu Karang sangat tinggi.

Tonny memaparkan, jika Indonesia bisa memanfaatkan dengan baik terumbu karang yang ada, nilainya bisa bertambah dari yang sekarang. Laporan lembaga Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan, nilai ekonomi dari wilayah Segitiga Terumbu Karang saat ini mencapai 14 miliar dolar Amerika Serikat baik dari sektor pariwisata, perikanan, maupun pemanfaatan infrastruktur pantai. “Pada 2030 bisa jadi US$ 37 miliar,” ujar Tonny. Dari proyeksi yang disebutkan di atas, US$ 26 miliar merupakan nilai aset potensial yang dapat dimiliki oleh Indonesia.

3. Upaya mencegah degradasi terumbu karang.

Dalam presentasinya, Tonny menjelaskan, lembaganya sudah membuat program untuk menjaga kawasan konservasi laut. Program itu bernama Program Manajemen dan Rehabilitasi terumbu karang (Coral Reef Rehabilitation and Management Program).
Ini merupakan program jangka panjang yang dilakukan Climate Change Trust Fund, yang merupakan satuan kerja dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk merespons keprihatinan dunia atas degradasi terumbu karang.
“Idealisme kita adalah supaya coral reef ini terus ada, tapi apakah kita terus pertahankan laju degradasi terumbu karang yang diakibatkan oleh kita atau karena perubahan iklim,” ucap dia.

4. Tiga tujuan strategis untuk menjaga terumbu karang Indonesia.

Menurut Tonny, ada tiga tujuan strategis yang dapat disumbangkan untuk mendukung komitmen nasional menjaga terumbu karang di wilayah Indonesia yakni perikanan, konservasi, infrastruktur dan pengembangan wilayah.
“Melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) yang telah berjalan tiga fase hingga saat ini, kami Indonesia Climate Change Trust Fund ingin membagi pembelajaran ke berbagai pihak untuk melanjutkan konservasi laut,” jelas Tonny Wagey.