September 16, 2019

Inovasi dalam Pengelolaan Area Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri

Sejak 2017 Indonesia Climate Change Trust Fund dengan dukungan oleh USAID berkerjasama dengan Universitas Jember  telah menjalankan program “Pengelolaan Area Rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri Melalui Pembangunan Desain Plot Demonstrasi Menggunakan Penutupan Vegetasi Keberlanjutan”. Program ini bertujuan untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Selain berdampak pada pelestarian lingkungan, program ini juga berdampak pada peningkatan kapasitas dan perekonomian masyarakat. Dengan keterlibatan aktif masyarakat Desa Wonoasri, program ini membuahkan inovasi kreatif berupa batik pewarna alam yang berasal daun jati, biji pohon joho lawe, daun tanaman putri malu, hingga kulit kayu pohon jambal. Terdapat 13 motif batik yang bersumber dari kekayaan hayati TNMB baik flora maupun flora misalnya motif samber elang, lembah padmosari, jejak matul, siput meru, botol cabe, rekahan rafflesia, pucuk cabe jawa, kuncup cabe, kepak elang, tapak asri, lebah meru, hingga alas meru.

Pada awal tahun 2018 terbentuk berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang memanfaatkan kekayaan alam TNMB mulai dari KUBE Batik Warna Alam, minuman herbal hingga camilan khas Desa Wonoasri. Sebagai bentuk apresiasi dan penguatan bagi Desa Wonoasri yang telah melakukan inovasi dari hasil alam Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), pada 31 Juli 2019 lalu, desa ini diresmikan sebagai Pusat Batik Warna Alam Meru Betiri oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Prof. Bambang Brodjonegoro di Gedung Rektorat Universitas Jember.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim ICCTF berkesempatan untuk berdialog dengan Ketua KUBE Batik Desa Wonoasri, Supmini Wardani. Peningkatan kapasitas untuk warga Desa Wonoasri memang diupayakan berkeadilan, ketika laki-laki dilatih membudidayakan tanaman untuk dikembangkan di Taman Nasional Meru Betiri, perempuan dilatih pula untuk mengolah hasil alam Taman Nasional Meru Betiri.

Tahun lalu Supmini bersama sekitar 50 warga Desa Wonoasri mengikuti pelatihan membatik yang diorganisir oleh tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga dan Universitas Jember, “mayoritas warga yang mengikuti pelatihan membatik adalah perempuan, ada 3 laki-laki yang terlibat dalam proses pewarnaan batik,” kenang Supmini. Seiring dengan berkembangnya produksi batik warna alam Meru Betiri Supmini dipercaya sebagai ketua, “awalnya saya hanya berpikir yang terpenting adalah ilmunya. Perlu ketelatenan, mereka yang masih bertahan membatik tentunya karena punya kemampuan dan kemauan yang kuat,” ujarnya.

Tantangan terbesar untuk mempertahankan Batik Warna Alam Meru Betiri adalah biaya kerja yang cukup tinggi sehingga harga jual batik warna alam juga cenderung tinggi. “Mayoritas buruh tani di sini mendapatkan penghasilan Rp50.000-Rp60.000 dalam sehari, sedangkan utuk membatik proses kerjanya panjang dan butuh detail saat pembuatan ornamen atau isen-isen,” jelas Supmini yang juga merupakan perancang batik pewarna alam Meru Betiri.

Konsistensi warna yang dihasilkan dari pewarna alam juga berbeda dengan pewarna sintetik, “Misalnya pewarnaan dari batang mahoni atau indigovera, semakin lama direndam akan menghasilkan warna yang pekat tergantung dengan bahan penguncinya. Warna alam terlihat seperti memudar, seperti kain gombalan (kain lama), tapi karena keunikan warna itu akhirnya batik warna alam punya pasar sendiri, penjualan memang masih terbatas di pameran Universitas Jember  serta kami mulai menjual via sosial media,” jelas Supmini.

Selain berdialog membahas KUBE Batik Warna Alam tim ICCTF juga bertemu dengan Ketua KUBE Jamu, Rustini. Sebelumnya Rustini telah mengikuti sosialisasi mengenai perubahan iklim yang diadakan ICCTF di Desa Curahnongko, Tempurejo, Jember, “kebiasaan masyarakat sebelumnya tidak baik seperti menebang kayu, membakar padi dan sampah seenaknya, kemudian  dampaknya kepada kesehatan, ada yang akhirnya mengidap Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)”.

“Saya berusaha  menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan kepada ibu-ibu lansia, saya sudah usul agar melakukan penghijauan, saat itu ibu-ibu lansia belum dilibatkan, kemudian ada kesempatan, ICCTF masuk ke penanaman yang berkesinambungan, misalnya menanam cabe jawa kemudian dijadikan jamu,” kenang Rustini atau biasa dikenal dengan nama Sujud.

Untuk membuat jamu Rustini mengaku telah memiliki kemampuan dasar,  dengan kesempatan dari ICCTF bekerjasama dengan Universitas Jember dirinya mendapat pelatihan lebih lanjut, “Alhamdulilah bisa lancar, ada masukan-masukan ilmu dari para pelatih, berkembang untuk pembuatan jamu dengan pengemasan dengan botol kaca, peralatan dan ilmu  saya bertambah.”

Saat ini Rustini memproduksi jamu kunyit asem, sirup rempah, jahe kencur cabe. “Saya mulai mengembangkan sirup sinom, khasiat sinom selain penyegar, kemudian membuat kulit bagus, begitu pula dengan kunyit asem membuat kulit kencang. Bisa membuat jamu sendiri tentunya lebih hemat untuk konsumsi di rumah, khasiat sinom selain penyegar, kemudian membuat kulit bagus, kunyit asem membuat kulit kencang.” Cerita Supmini Wardani dan Rustini memberikan pelajaran dan manfaat yang luar biasa bila manusia turut aktif dalam pelestarian lingkungan, bukan hanya memberikan keuntungan secara ekologi namun juga ekonomi.