June 27, 2019

Dampak Proyek Indonesia Climate Change Trust Fund & Lembaga Olah Hidup

Program Indonesia Climate Change Trust Fund & Lembaga Olah Hidup dengan pendanaan USAID secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang memungkinkan (enabling environtment) untuk mendukung kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Gunung Tambora (Samota) di NTB yang akan diresmikan sebagai salah satu cagar biosfer dunia. Indonesia Climate Change Trust Fund nerupakan instrumen utama yang digunakan pemerintah Indonesia dalam mengurangi intensitas emisi dan emisi gas rumah kaca melalui aksi pembangunan rendah karbon dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Indonesia Climate Change Trust Fund berupaya untuk mengintegrasikan isu-isu perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan di tingkat nasional, provinsi dan regional serta mengimplementasikan inisiatif-inisiatif tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dengan memanfaatkan dan menyalurkan sumber daya domestik dan dana internasional ke dalam proyek-proyek yang selaras dengan rencana implementasi RAN / RAD-GRK Indonesia, ICCTF mendukung target pengurangan emisi.

Program rehabilitasi lahan yang dilakukan ICCTF menjadi pencetus agroforestri. Pada proyek pertama Indonesia Climate Change Trust Fund dan Lembaga Olah Hidup (LOH) melakukan rehabilitasi Hutan Kemasyarakatan (Hkm) Lito seluas 200 hektar di Desa Lito, Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa. Program pertama yang dilakukan ICCTF berlokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Moyo. DAS Moyo termasuk dalam 15 DAS Prioritas Nasional karena mengalami kekritisan lahan. Penyebab kritisnya DAS Moyo dikarenakan oleh pembabatan pohon di area hulu untuk berbagai keperluan termasuk pertanian (budidaya jagung).

Kemudian program kedua Indonesia Climate Change Trust Fund  merehabilitasi area hutan pantau seluas 450 hektar area mangrove dan tambah seluas 75 hektar. Tak hanya itu, prorgam ICCTF-LOH juga melatih masyarakat untuk melakukan budidaya jagung dengan pupuk organik, herbisida organik, serta insektisida organik. Program ini meningkatkan produksi jangung dari sekitar 5 ton/hektar menjadi 7,5 ton/hektar dan menurunkan biaya produksi sekitar 35%.

Rehabilitasi lahan ICCCTF-LOH kemudian menggerakan pihak yang peduli dengan rehabilitasi lahan untuk mereplikasi program perlindungan lahan ini dengan dana mandiri oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ropang di Kecamatan Ropang, Lantung, Moyohulu, dan Lopok dengan total area rehabilitasi 200 hektar. Tak hanya itu, rehabilitasi lahan yang dilakukan ICCTF juga menginspirasi pihak swasta yaitu PT. Sumbawa Juta Raya (SJR), yang kemudian mendanau rehabilitasi lahan di Desa Mama Kecamatan Lopok seluas 100 hektar. Program ini berdampak pada perbaikan lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Sumba dan perbaikan kualitas lingkungan perairan Teluk Saleh.